oleh

Balita Meninggal Ditenda Pengunsian Sulbar

MAMUJU, Refortase.com – Balita Al Fauzi meninggal dunia di lokasi pengungsian gempa Mamuju, Sulawesi Barat. Balita berusia 1,5 tahun itu diduga meninggal dunia karena kedinginan selama berada di tenda pengungsian.

Selama satu minggu di lokasi pengungsian, Fauzi diketahui mengalami demam, batuk, sesak napas, hingga kedinginan. Sejatinya Fauzi telah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Sayangnya, Fauzi tidak dapat bertahan.

“Saat di rumah sakit, hari pertama sempat membaik. Tapi hari kedua kembali drop sampai menghembuskan nafas terakhir,” ungkap Paman Fauzi, Feriarso Mustari, dikutip dari Kompas.com, Kamis (4/2/2021).

Bocah berusia setahun lebih lima bulan itu mengembuskan napas terakhirnya di RSUD Regional Sulbar, pada Senin (25/1/2021) lalu.

Dia bilang, Fauzi telah berpulang ke pangkuan Ilahi setelah beberapa hari bertahan karena kedinginan yang ia hadapi sejak mengungsi akibat gempa di Mamuju, Sulbar.

“Saat musibah gempa (kami) mengungsi di Bukit Karatuang,” katanya dalam pesan singkat, Jumat (5/2/2021).

Rumahnya yang berada di Desa Tapalang, Kecamatan Tappalang mengalami rusak berat atau hancur akibat guncangan gempa, yang terjadi akhir-akhir ini.

Dari masalah itu, Fauzi beserta sanak keluarganya terpaksa tetap bertahan di tenda pengungsian dengan alat seadanya. Selain rumah rusak, mereka juga khawatir ada tsunami usai gempa kembali mengguncang Bumi Manakarra ini.

“Saat di rumah sakit, hari pertama sempat membaik. Tapi pas di hari kedua, (kesehatannya) kembali drop sampai mengembuskan napas terakhir pukul 09.30 Wita,” jelasnya.

Hal serupa juga pernah terjadi dan menimpa satu pengungsi di Kabupaten Majene, Sulbar. Namanya Subaedah, 53 tahun yang dinyatakan wafat saat masih berada di lokasi pengungsian, Rabu (20/1/2021) lalu.

Di bawah tenda sederhana di atas bukit, korban mengungsi bersama sanak keluarganya akibat gempa mengguncang Majene pekan lalu.

Sejak hari pertama mengungsi, Subaedah sudah merasa kedinginan. Batuknya pun tak kunjung berhenti. Terlebih hujan beberapa kali melanda daerah terdampak gempa.
Hingga pada Selasa, (19/1/2021), Subaedah mengembuskan napas terakhirnya. Ia tak mampu lagi melawan penyakit yang ia derita selama mengungsi.

“Betul memang. Almarhumah itu tinggal di pengungsian. Sehari sebelum meninggal, sempat saya tanya dia saat jalan-jalan, apa keluhannya. Katanya sedang kedinginan dan batuk berdahak,” kata Kepala Desa Totolisi Kecamatan Sendana, Majene, Suardi.

Komentar